5 Master Nasional Saling Jegal, 2 Tiket Kejurnas Banten Jadi Harga Mati

Pertarungan catur antar master menuju Kejurnas Banten Oktober 2026.

JURNALJAMBI.CO – Papan catur di Jambi Chess Tournament Season 2 semakin panas. Persaingan bukan lagi sekadar mengejar kemenangan demi kemenangan, tetapi mulai mengarah pada pertarungan prestise dan tiket menuju panggung nasional.

Lima pecatur bergelar Master Nasional (MN) kini harus saling jegal untuk memperebutkan dua tiket menuju Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur di Banten, Oktober 2026.

Artinya, dari lima master yang bertarung, hanya dua yang nantinya berpeluang membawa nama Jambi ke ajang bergengsi tersebut. Tiga lainnya harus menerima kenyataan pahit tersingkir dari persaingan.

Lima nama yang menjadi pusat perhatian adalah MN Sarmadoli Siringo Ringo, MN Rori Muldianto, MN Sugianto Tjhin, MN Izhar Bafadhal, dan MN Miduk S Hutabarat.

Pertarungan mereka dipastikan tidak mudah. Sebab, para pecatur non master yang ambil bagian dalam turnamen juga menunjukkan kualitas permainan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bahkan, kejutan demi kejutan sudah terjadi. Status Master Nasional beberapa kali tidak mampu menjadi jaminan untuk mengamankan poin.

MN Sarmadoli Siringo Ringo untuk sementara masih menunjukkan konsistensi luar biasa. Pecatur andalan Kabupaten Tanjung Jabung Barat itu kokoh di papan atas dengan koleksi 14 poin.

Namun, posisi Sarmadoli belum sepenuhnya aman. MN Rori Muldianto membuntuti dengan jumlah poin yang sama. Sarmadoli masih berhak berada di posisi teratas karena unggul dalam perhitungan Solkoff.

Menariknya, kedua pecatur tersebut sudah berhadapan langsung pada babak keenam. Duel dua pemuncak klasemen berlangsung sengit dan berakhir imbang.

Hasil tersebut membuat persaingan semakin sulit ditebak. Sarmadoli memang masih di singgasana, tetapi Rori terus mengintai dan siap mengambil alih posisi teratas.

Di belakang keduanya, MN Sugianto Tjhin juga terus membayangi dengan 13 poin. Sementara MN Izhar Bafadhal mengoleksi 10 poin.

Situasi paling berat justru dialami MN Miduk S Hutabarat. Setelah tumbang dari pecatur non master Hery Sofyandy pada babak keenam, Miduk harus terlempar ke posisi kedelapan dengan enam poin.

Kekalahan tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan menuju dua tiket Kejurnas Banten tidak akan mudah.

Para master harus mampu menjaga konsentrasi hingga pertandingan terakhir. Satu kekalahan saja bisa membuat posisi berubah drastis.

Di sisi lain, para pecatur non master justru tampil tanpa beban. Mereka menjadi ancaman nyata bagi para master dan berpotensi menjadi penentu siapa yang bertahan di papan atas.

Dengan persaingan yang semakin ketat, dua tiket Kejurnas Banten kini benar-benar menjadi harga mati.

Lima Master Nasional harus saling jegal, sementara para non master siap menjadi batu sandungan. Siapa yang mampu bertahan sampai akhir? Jawabannya akan ditentukan oleh setiap langkah di atas papan catur.(*)