Kekayaan Alam Aceh Ditelan, Bendera Bulan Bintang Dikibarkan untuk Merdeka

Rakyat Aceh Kibarkan Bendera Bulan Bintang.

JURNALJAMBI.CO – Di peringatan 21 tahun damai yang seharusnya menjadi momen syukur, ribuan warga Aceh justru meluapkan kemarahan dan harapan lewat pengibaran bendera Bulan Bintang di halaman Masjid Raya Baiturrahman hingga kawasan Pendopo Gubernur. Di balik aksi simbolis itu tersimpan keluhan panjang: kekayaan alam melimpah yang dikelola pihak luar, sementara rakyat di atasnya belum merasakan keadilan yang layak .

Massa yang awalnya berkumpul berdoa, perlahan bergerak menyuarakan tuntutan. Mereka menurunkan bendera negara dan menaikkan bendera identitas Aceh, meneriakkan “Merdeka” sebagai bentuk protes atas pengelolaan gas, minyak, tambang, dan hasil laut yang dinilai masih berpusat di luar kendali daerah. Aksi ini sempat memicu ketegangan dengan aparat, namun pesan yang disampaikan tetap tegas: Aceh ingin mengelola rumah tangganya sendiri .

Berbagai data menunjukkan bahwa potensi ekonomi Aceh sangat besar, namun manfaatnya belum sepenuhnya kembali ke masyarakat. Penerimaan bagi hasil tambang yang diterima daerah jauh lebih kecil dibanding kerugian akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Padahal dalam Perjanjian Damai Helsinki dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh, ditegaskan hak pengelolaan sumber daya alam harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Aceh dengan pembagian hasil 70 persen untuk daerah.

“Kami tidak meminta hal yang tidak wajar. Kami hanya menagih apa yang sudah disepakati. Jangan biarkan tanah kami makin gundul, laut kami makin rusak, namun yang menikmati hasilnya bukan kami,” tegas salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam aksi tersebut. Sejumlah tuntutan pun diserahkan, mulai dari pengembalian blok migas strategis ke pengelolaan daerah, kewajiban pengolahan hasil bumi di Aceh sendiri, hingga pembentukan dana abadi untuk kesejahteraan generasi mendatang.

Berbagai pihak mengingatkan bahwa perdamaian tidak hanya berarti tidak ada senjata yang berbunyi, melainkan juga terciptanya keadilan ekonomi dan politik yang nyata. Jika janji otonomi khusus terus berjalan setengah hati, maka semangat yang meluap hari ini bukanlah yang terakhir kali terjadi.