OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PINANG MENJADI BRIKET RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN NILAI EKONOMI MASYARAKAT DESA KUNANGAN

Pada tahap sosialisasi, warga diajak berdiskusi santai namun mendalam tentang

JURNALJAMBI.CO — Siapa sangka, tumpukan kulit pinang yang selama ini hanya dibuang atau dibakar begitu saja di pekarangan warga Desa Kunangan ternyata menyimpan potensi besar. Berkat sentuhan inovasi sederhana, limbah yang dulu dianggap tak berguna itu kini disulap menjadi briket bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan sekaligus punya nilai jual.

Provinsi Jambi, Kab. Muaro Jambi, Kec. Taman Rajo, Desa Kunangan dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan pinang di Indonesia, bahkan menjadi salah satu andalan ekspor daerah. Namun di balik nilai ekonominya yang tinggi, ada persoalan yang selama ini luput dari perhatian: limbah kulit pinang yang menumpuk setiap kali panen tiba. Selama ini warga terbiasa membuang atau membakarnya secara terbuka, praktik yang bukan hanya mencemari lingkungan tetapi juga menyia-nyiakan potensi ekonomi yang sebenarnya bisa digarap.

Menjawab persoalan tersebut, sebuah program pengabdian masyarakat kuliah kerja nyata posko 27 UIN STS JAMBI digagas untuk mengubah kebiasaan lama itu. Selama hampir satu bulan, dari 6 Juli hingga 4 Agustus 2025, tim pengabdian bersama perangkat desa dan warga Desa Kunangan bahu-membahu belajar mengolah limbah kulit pinang menjadi briket. Kegiatan ini menyasar petani, pelaku usaha kecil, hingga warga lain yang punya akses terhadap bahan baku tersebut, dan dilakukan bertahap mulai dari sosialisasi, pelatihan teknis, praktik langsung, hingga pendampingan lanjutan.

Pada tahap sosialisasi, warga diajak berdiskusi santai namun mendalam tentang pentingnya mengelola limbah organik. Banyak dari mereka baru menyadari bahwa kulit pinang ternyata bisa diolah menjadi sumber energi, dan antusiasme yang muncul cukup tinggi.

Proses pembuatan briket sendiri sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Kulit pinang dikeringkan lebih dulu, lalu dikarbonisasi (dibakar dengan oksigen terbatas hingga jadi arang) tahap yang menjadi kunci kualitas briket. Arang tersebut kemudian digiling menjadi serbuk halus, dicampur perekat tepung kanji, dicetak dengan alat sederhana, lalu dikeringkan kembali hingga siap dipakai. Seluruh proses ini dikerjakan langsung oleh warga dengan pendampingan tim, sehingga ilmunya benar-benar melekat dan bisa dipraktikkan mandiri.

Hasilnya, briket yang dibuat warga Desa Kunangan terbukti berkualitas cukup baik: mudah menyala, panasnya stabil, dan asapnya jauh lebih sedikit dibanding membakar limbah langsung seperti kebiasaan sebelumnya. Lebih dari sekadar produk fisik, program ini juga mengubah cara pandang warga limbah yang dulu dianggap sampah kini dilihat sebagai sumber daya produktif. Sejumlah warga bahkan mulai tertarik mengembangkan produksi briket ini dalam skala rumah tangga sebagai peluang usaha tambahan.

Dampaknya terasa dari berbagai sisi: dari sisi lingkungan mengurangi pencemaran akibat pembakaran terbuka, dari sisi ekonomi membuka peluang usaha baru, dan dari sisi sosial mempererat kerja sama antarwarga.

Keberhasilan program di Desa Kunangan ini menjadi bukti bahwa persoalan limbah tidak selalu harus berakhir dengan pencemaran. Dengan sedikit sentuhan inovasi dan kemauan untuk belajar, limbah bisa berubah menjadi berkah baik untuk lingkungan maupun kantong warga. Model kegiatan seperti ini pun dinilai punya potensi besar untuk direplikasi di desa-desa lain dengan karakteristik sumber daya serupa, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan masyarakat dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan

Penulis : Nurjannah