Muaro Jambi Terjepit Industri: 12 Stockpile Batu Bara Ganggu Upaya Masuk UNESCO

KCBN Muaro Jambi Dikepung Stockpile Batu Bara, Pemerintah Ancam Tutup Usaha

JURNALJAMBI.CO —  Keindahan dan kebesaran Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi kini berada dalam ancaman serius. Kompleks percandian terluas di Asia Tenggara seluas 3.981 hektare ini dikepung aktivitas industri, khususnya stockpile batu bara yang beroperasi di zona inti kawasan.

Ancaman itu kembali disorot pemerintah pusat. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap pemilik stockpile batu bara yang masih membandel beroperasi di KCBN Muaro Jambi.

Kementerian Kebudayaan akan kembali mengirimkan surat sekaligus memanggil para pemilik perusahaan untuk meminta komitmen memindahkan operasional mereka ke luar kawasan. Kalau masih membandel juga, saya akan usulkan untuk ditutup saja usahanya tegas Fadli saat meninjau Jambi, Selasa (4/8/2026).

Peringatan ini bukan kali pertama. Pemerintah sudah menyurati sejak 1,5 tahun lalu, namun aktivitas penumpukan batu bara masih ditemukan di kawasan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

Dampak Kerusakan: Air Asam Rusak Bata Candi Para ahli arkeologi sudah lama memperingatkan bahaya ini. Prof. Mundardjito, Guru Besar Arkeologi FIB UImenyebut tumpukan batu bara yang masuk ke aliran sungai menghasilkan air asam. Air itu merembes ke bata penopang candi dan membuatnya rusak.

Foto udara juga menunjukkan Candi Teluk I di Desa Kemingking Luar hanya dipisah puluhan meter dari tumpukan batu bara dan alat berat. Di sekeliling situs juga terdapat penumpukan batu split, cangkang sawit, hingga dermaga tongkang batu bara di tepi Sungai Batanghari.

WALHI Jambi menilai dampaknya tak hanya ke candi. Debu batu bara mencemari udara dan mempercepat pelapukan struktur bangunan. Lalu lintas truk berat juga menimbulkan getaran yang berpotensi mengganggu kestabilan candi. Limpasan air hujan dari stockpile disebut berpotensi mencemari Sungai Batanghari.

Hambat Jalan ke UNESCO Keberadaan 12 perusahaan stockpile di dalam kawasan menjadi salah satu penghambat utama upaya menjadikan KCBN Muaro Jambi sebagai Warisan Dunia UNESCO Padahal usulan ini sudah masuk _tentative list_ sejak 2009.

Kepala BPK Wilayah V Jambi-Bangka Belitung Agus Widiatmoko mengatakan pihaknya sudah memugar Candi Teluk I yang lokasinya dekat tumpukan batu bara. Namun pembebasan lahan dari stockpile bukan kewenangan BPK, sehingga butuh koordinasi dengan pemerintah daerah.

Gubernur Jambi Al Haris juga mengakui masih ada perusahaan batu bara dan sawit di kawasan percandian dan pihaknya masih mengupayakan pembebasan lahan.

Nilai Sejarah yang Terancam KCBN Muaro Jambi bukan situs biasa. Kawasan ini adalah pusat pendidikan agama Buddha abad VII-XIII terbesar di Asia Tenggara. Luasnya 20 kali Borobudur dan 2 kali Angkor Wat. Pada 671 M, pengelana Tiongkok I-Tsing mencatat ribuan biksu dari berbagai negara datang ke sini untuk belajar sebelum ke Nalanda, India.

Konflik klasik pun terjadi. Industri batu bara memang berkontribusi pada pendapatan daerah dan lapangan kerja. Namun di sisi lain, ia mencederai keaslian lanskap budaya yang menjadi identitas situs.

Pemerintah menegaskan langkah ini bukan untuk menghambat investasi, melainkan memindahkan operasional ke lokasi yang tidak mengganggu cagar budaya. Kini publik menunggu komitmen nyata pemindahan stockpile agar Muaro Jambi bisa benar-benar diselamatkan dari “cengkraman gurita batu bara.