Inovasi Briket Kulit Pinang untuk mengurangi limbah dan menambah nilai ekonomis di desa kunangan

Mayoritas warga Desa Kunangan bekerja sebagai petani padi dan pinang

JURNALJambI.CO— Kulit pinang yang selama ini hanya dibakar atau dibiarkan membusuk di Desa Kunangan, Kecamatan Taman Raja, Kabupaten Muaro Jambi, kini diolah menjadi briket, bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Mayoritas warga Desa Kunangan bekerja sebagai petani padi dan pinang. Meski panen pinang menguntungkan, kulit buahnya nyaris tak dimanfaatkan padahal volumenya besar tiap musim. Mahasiswa KKN Reguler UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi di desa ini menginisiasi pengolahan kulit pinang menjadi briket. Program ini diapresiasi saat LPPM UIN STS Jambi memonitoring dan mengevaluasi desa-desa lokasi KKN di Muaro Jambi pada 26 Juli 2026.

Kulit pinang kaya alfa-selulosa (±53%), cocok jadi bahan baku briket arang bernilai kalor baik. Prosesnya: pengeringan → karbonisasi → penghalusan arang → pencampuran perekat alami (tapioka/molase) → pencetakan dan pengeringan. Kadar air briket tercatat 4,82–6,36%, memenuhi standar SNI 01-6235-2000 — semakin rendah kadar air, semakin cepat menyala, sedikit asap, dan tahan lama.

Selain memproduksi briket, mahasiswa melatih ibu-ibu PKK agar bisa berproduksi mandiri. Target pasarnya pedagang sate, sosis bakar, ikan bakar, dan jagung bakar sebagai alternatif arang yang lebih ekonomis. Koordinator Pusat Pengabdian Masyarakat LPPM UIN STS Jambi, Mukhlis, M.Pd.I., berharap program ini terus dikembangkan masyarakat agar memberi dampak ekonomi berkelanjutan.

Lingkungan: mengurangi pembakaran limbah terbuka dan polusi udara, sejalan dengan ekonomi sirkular desa.

Ekonomi: membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu PKK dan menambah pendapatan keluarga petani pinang.

Model serupa sudah lebih dulu dikembangkan di Sumatera Utara hingga Aceh dengan hasil menjanjikan.

Agar program tak berhenti setelah KKN usai, dibutuhkan: konsistensi produksi dan kualitas oleh ibu-ibu PKK, perluasan akses pasar, pendampingan pemerintah desa/dinas/perguruan tinggi (misalnya bantuan alat cetak atau pelatihan pengemasan-pemasaran), serta standarisasi mutu produk.

Jika faktor ini terjaga, briket kulit pinang berpotensi tumbuh dari program pengabdian mahasiswa menjadi usaha rumahan berkelanjutan.

Penulis Gita Sapriawati