JURNALJAMBI.CO – Sosok pemimpin Agamis Drs. H. Cek Endra mengajak seluruh masyarakat, khususnya para pemimpin di Kabupaten Sarolangun untuk tidak hanya mengenang Buya Salek, tetapi juga meneladani dan meneruskan perjuangannya dalam syiar islam. Ajakan ini diserukan Cek Endra dalam momentum Haul ke-23 KH. Muhammad Salek atau Buya Salek sekaligus Haul ke-7 Ustadz K.H. Muhammad Arifin Ilham, di Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Buya KH. Muhammad Salek, Desa Penegah, Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun, Senin 24 Agustus 2026.
Haul dua ulama besar ini dirangkai dengan Do’a dan Dzikir Akbar Murobbi, acara ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang dua sosok ulama yang memiliki jasa besar dalam dakwah Islam, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi dan meneguhkan kembali semangat meneruskan perjuangan syiar Islam.
Sejak rangkaian acara dimulai, masyarakat tampak antusias mengikuti kegiatan. Para ulama, pimpinan pondok pesantren, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, wali murid dan ribuan jamaah hadir dalam suasana penuh kekhusyukan.
Kegiatan diisi dengan rangkaian acara keagamaan dan ceramah yang disampaikan langsung oleh K.H. Muhammad Abdul Syukur Yusuf, Pimpinan Majelis Az-Zikra Sentul, Bogor. Tausiyah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian haul, dengan pesan agar umat senantiasa menjaga hubungan dengan Allah SWT, mencintai Al-Qur’an, menghormati ulama serta meneruskan dakwah dan kebaikan yang telah diwariskan para pendahulu.
Setelah tausiyah, kegiatan dilanjutkan dengan Rangkaian do’a dan dzikir berjalan dengan khidmat. Ribuan jamaah larut dalam lantunan dzikir dan do’a, mengikuti setiap rangkaian dengan penuh kekhusyukan. Suasana semakin terasa haru ketika seluruh jamaah bersama-sama memanjatkan do’a, mengenang jasa para ulama dan memohon keberkahan serta kebaikan bagi keluarga, masyarakat dan Kabupaten Sarolangun.
Dalam sambutannya, Drs. H. Cek Endra, mantan Bupati Sarolangun yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Buya Salek, menyampaikan bahwa sosok Buya Salek merupakan bagian penting dari sejarah perjalanan syiar Islam di Sarolangun. Karena itu, nilai-nilai perjuangan, keteladanan dan pengabdian yang telah diwariskan harus terus dijaga oleh generasi sekarang.
“Mari kita sebagai pemimpin dan masyarakat Sarolangun terus mengenang para ulama, meneladani perjuangannya dan meneruskan cahaya kebaikannya. Apa yang telah dilakukan Buya Salek dalam syiar Islam jangan sampai berhenti. Mari kita teruskan perjuangan beliau melalui pendidikan, dakwah dan berbagai kebaikan untuk masyarakat,” ujar Cek Endra.
Menurut Cek Endra, meneruskan perjuangan ulama tidak harus selalu dalam bentuk yang sama seperti yang dilakukan pada masa lalu. Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai bidang, terutama dengan memperkuat pendidikan agama, mendukung pondok pesantren, membina generasi muda dan menciptakan lingkungan masyarakat yang religius.
Cek Endra juga mengajak para pemimpin untuk memberikan perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan keagamaan.
“Kalau kita ingin perjuangan para ulama terus hidup, maka generasi muda harus kita siapkan. Mereka harus mendapatkan pendidikan, ilmu agama dan keteladanan. Pesantren menjadi salah satu tempat penting untuk melahirkan generasi yang akan meneruskan perjuangan tersebut,” seru Cek Endra.
Ia berharap keberadaan Pondok Tahfizul Qur’an Buya KH. Muhammad Salek dapat terus berkembang dan menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi Qur’ani di Kabupaten Sarolangun.
Sementara itu, Drs. H. Lukman, M.Pd (Haji Lukman), Ketua Yayasan Pondok Pesantren Buya Salek, dalam sambutannya mengungkapkan perjalanan awal berdirinya yayasan dan pondok pesantren tersebut.
Haji Lukman menjelaskan bahwa pendirian yayasan dan pembangunan pondok pesantren tidak terlepas dari semangat Cek Endra ketika menjabat sebagai Bupati Sarolangun, sementara dirinya pada saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun.
Menurut Haji Lukman, sejak awal sudah muncul keinginan untuk membangun lembaga pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pendidikan umum, tetapi juga memperkuat pendidikan Al-Qur’an dan syiar Islam.
“Yayasan dan pondok pesantren ini mulai berdiri ketika Pak Cek Endra menjadi Bupati Sarolangun dan saya menjadi Kepala Dinas Pendidikan. Semangat awalnya adalah bagaimana kita meneruskan perjuangan Buya Salek dalam syiar Islam melalui pendidikan dan pesantren,” ungkap Haji Lukman.
Ia menjelaskan, semangat tersebut kemudian diwujudkan dengan membangun lembaga pendidikan yang diharapkan dapat menjadi tempat generasi muda belajar Al-Qur’an, memperdalam ilmu agama dan membentuk akhlak.
Bagi Haji Lukman, keberadaan pondok pesantren bukan hanya pembangunan sebuah lembaga, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar panjang untuk menjaga warisan perjuangan Buya Salek.
“Harapan kita, pondok ini terus berkembang dan menjadi tempat lahirnya generasi Qur’ani. Dengan begitu, perjuangan Buya Salek dalam syiar Islam dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Peringatan Haul Buya Salek ke-23 sekaligus Haul K.H. Muhammad Arifin Ilham ke-7 tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Jambi H. Abdullah Sani, Bupati Sarolangun H. Hurmin, Wakil Bupati Sarolangun Gerry Trisatwika, Wakil Bupati Bungo Tri Wahyu Hidayat, jajaran OPD, tokoh masyarakat, wali murid, para pimpinan pondok pesantren dan ribuan masyarakat Kabupaten Sarolangun.
Hadir pula K.H. Muhammad Abdul Syukur Yusuf, Pimpinan Majelis Az-Zikra Sentul, Bogor, serta K.H. Al Mubarak, Pimpinan Pondok Pesantren Hafiz Qur’an Ma’had Al Mubarak.
Kehadiran para ulama dan pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah semakin menambah kekhidmatan peringatan tersebut. Silaturahmi antara ulama, pemerintah, tokoh masyarakat dan masyarakat umum juga menjadi bagian penting dari kegiatan.
Haul Buya Salek ke-23 dan Haul K.H. Muhammad Arifin Ilham ke-7 akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial untuk mengenang dua sosok ulama.
Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa warisan terbesar seorang ulama bukan hanya nama yang dikenang, tetapi ilmu, akhlak, perjuangan dan kebaikan yang terus hidup setelah mereka tiada.
Dari Desa Penegah, pesan tersebut kembali digaungkan, perjuangan syiar Islam harus terus dilanjutkan. Pemerintah, ulama, tokoh masyarakat, pesantren, orang tua dan generasi muda memiliki peran masing-masing dalam menjaga cahaya kebaikan tersebut.
Dengan semangat itu, Pondok Tahfizul Qur’an Buya KH. Muhammad Salek diharapkan terus menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan dan syiar Islam di Sarolangun, menjaga warisan Buya Salek sekaligus menyiapkan generasi penerus yang mampu membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.












