Mengubah Limbah Jadi Berkah: Briket Kulit Pinang Desa Kunangan Solusi Ramah Lingkungan Pengganti Arang Kayu

Proses pembuatan briket kulit pinang ini terbilang sederhana dan dapat diproduksi secara mandiri oleh warga.

JURNALJAMBI.CO — Tumpukan kulit pinang yang membusuk di pekarangan atau membumbung menjadi asap pembakaran kini tak lagi menjadi pemandangan sia-sia di Desa Kunangan. Berangkat dari melimpahnya limbah hasil olahan pinang, saya bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan warga setempat sukses menciptakan inovasi bahan bakar alternatif berupa briket kulit pinang. Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas tingginya ketergantungan warga terhadap kayu bakar dan arang konvensional yang kian mengancam kelestarian vegetasi desa.

Gagasan ini berawal dari keprihatinan atas dua masalah yang saling berkaitan: penumpukan sampah organik dan tingginya konsumsi kayu bakar untuk kebutuhan memasak harian hingga usaha mikro. Jika terus dibiarkan tanpa alternatif, tekanan terhadap hutan dan lingkungan sekitar Desa Kunangan akan makin berat. Berangkat dari kondisi tersebut, kami berinisiatif memanfaatkan kembali limbah yang selama ini diabaikan menjadi energi terbarukan yang bernilai ekonomis.

Proses pembuatan briket kulit pinang ini terbilang sederhana dan dapat diproduksi secara mandiri oleh warga. Pertama, kulit pinang kering menjalani proses karbonisasi, yaitu pembakaran terkontrol tanpa udara hingga menjadi arang. Arang tersebut kemudian dihaluskan dan dicampur dengan bahan perekat alami dari adonan tepung tapioka dan air. Setelah tercampur rata, adonan dicetak dengan tingkat kepadatan tinggi sebelum akhirnya dijemur di bawah terik matahari hingga benar-benar kering.

Hasil uji coba menunjukkan performa briket kulit pinang yang sangat memuaskan. Bahan bakar alternatif ini mampu menghasilkan bara api yang stabil, panas yang tahan lama, serta emisi asap yang jauh lebih sedikit dibandingkan arang kayu biasa. Fisik briketnya yang padat juga membuatnya kokoh dan tidak mudah hancur saat digunakan.

Melihat potensi besar ini, saya bergerak mengedukasi masyarakat Desa Kunangan melalui program sosialisasi dan pelatihan langsung agar mereka dapat memproduksi briket ini secara mandiri. Edukasi ini tidak hanya membantu menekan pengeluaran rumah tangga warga untuk membeli bahan bakar, tetapi juga mengurangi volume sampah organik sekaligus menjaga kelestarian hutan desa. Langkah sederhana dari Desa Kunangan ini membuktikan bahwa solusi atas krisis lingkungan dan energi sering kali tersembunyi di sekitar kita, menunggu untuk diolah menjadi manfaat nyata.

Nama penulis : Mugni Nur Wafika azzahra