JURNALJAMBI.CO – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi setelah menyatakan keinginannya untuk mengambil alih sumber minyak milik Iran. Pernyataan ini muncul di tengah konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa menguasai minyak Iran merupakan salah satu opsi strategis yang dipertimbangkan Amerika Serikat. Ia bahkan menyinggung kemungkinan merebut pusat ekspor utama minyak Iran yang berada di Pulau Kharg.
Langkah tersebut dinilai berpotensi melibatkan operasi militer besar. Pemerintah AS dilaporkan telah mengerahkan sekitar 10.000 tentara ke kawasan Timur Tengah, termasuk ribuan marinir dan pasukan elit dari divisi lintas udara.
Sebagian pasukan telah tiba lebih dulu, sementara sisanya masih dalam perjalanan. Kehadiran militer ini disebut sebagai bagian dari kesiapan menghadapi berbagai skenario, termasuk kemungkinan penguasaan wilayah strategis.
Trump bahkan mengklaim bahwa pertahanan Iran di Pulau Kharg relatif lemah dan dapat direbut dengan mudah. Namun, sejumlah analis menilai langkah ini berisiko tinggi karena dapat memperpanjang konflik dan meningkatkan korban jiwa.
Ketegangan ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga menembus 116 dolar AS per barel, mendekati level tertinggi sejak konflik dimulai.
Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, mengingat Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia.
Situasi semakin kompleks setelah serangan terhadap pangkalan militer di Arab Saudi yang melukai sejumlah tentara AS. Selain itu, kelompok Houthi di Yaman juga dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel, menambah eskalasi konflik.
Di tengah meningkatnya ketegangan, jalur strategis seperti Selat Hormuz juga menjadi perhatian karena berpotensi terganggu. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.












