JURNALJAMBI.CO – Ratusan warga Aurduri menggelar doa bersama di Pelataran Masjid Al-Munawarah, Sabtu (14/02/2026) malam. Mereka tegas menolak rencana pembangunan stockpile batubara di kawasan permukiman padat penduduk.
Kegiatan itu melibatkan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi, dan Barisan Perjuangan Rakyat (BPR). Warga merasa cemas terhadap ancaman polusi debu, dan kerusakan lingkungan di wilayah mereka.
Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, menyebut aksi ini sebagai langkah pembelaan hak hidup sehat warga. Ia menilai pembangunan depo batubara di tengah hunian sangat membahayakan keselamatan publik.
“Kegiatan istighotsah dan doa bersama ini adalah simbol perlawanan warga. Rencana pembangunan stockpile batubara di tengah permukiman merupakan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat,” tegas Oscar.
Warga menilai proyek PT Sinar Anugrah Sukses (SAS) ini melanggar aturan tata ruang. Lokasi proyek berada di zona pemukiman, bukan kawasan industri sesuai Perda Kota Jambi Nomor 5 Tahun 2024.
Penolakan ini didasari kekhawatiran terhadap penurunan kualitas hidup dan kesehatan anak-anak. Debu batubara diyakini akan mencemari udara dan sumber air bersih milik warga sekitar.
Ketua BPR, Erpen, berharap pemerintah daerah segera bertindak bijak. Ia meminta lokasi stockpile pindah ke wilayah yang sesuai peruntukan industri.
“Istighotsah ini bentuk kepasrahan sekaligus harapan kami agar pemerintah provinsi dan kota mengambil kebijakan bijaksana dengan memindahkan rencana lokasi stockpile batubara ke wilayah yang sesuai tata ruang,” ujar Erpen.
Sekretaris BPR, Dlomiri, bahkan mengancam akan membawa aksi protes ini ke tingkat pusat. Mereka siap mengadu ke Senayan jika aspirasi daerah tidak membuahkan hasil.
“Seandainya pihak penentu kebijakan yang ada di daerah ini juga belum memberikan hasil, maka insyaallah kita akan berjuang sampai ke pusat. Bahkan mungkin sampai ke Senayan kita akan menggeruduk ke sana,” tegas Dlomiri.
Di sisi lain, PT SAS mengklaim telah mengantongi izin lengkap dari Kementerian ATR/BPN. Namun, protes keras warga sejak September 2025 membuat proyek jalan khusus dan stockpile ini tertunda.
Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Jambi turut hadir memberikan dukungan moral bagi perjuangan warga. Mereka berdiri bersama masyarakat untuk menolak keberadaan proyek yang dianggap merugikan tersebut.













