Daerah  

Investasi Merangin Baru Rp53 Miliar, Jauh dari Tebo Rp723 Miliar

Suasan perkotaan di Kabupaten Merangin.

JURNALJAMBI.CO – Realisasi investasi Kabupaten Merangin yang baru mencapai Rp53 miliar hingga triwulan II 2026 menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Nilai tersebut terpaut jauh dari Kabupaten Tebo yang mencatatkan Rp723 miliar pada periode yang sama. Namun, kesenjangan ini perlu dibaca lebih dalam daripada sekadar perbandingan angka.

Data yang disampaikan dalam laporan perkembangan investasi Provinsi Jambi menunjukkan total realisasi modal mencapai Rp4,2 triliun hingga triwulan II 2026. Kelompok tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan menjadi salah satu sektor utama yang menarik investasi, disusul industri makanan dan kehutanan.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa sektor berbasis sumber daya alam masih menjadi tumpuan arus modal di Jambi. Tantangan Merangin adalah memastikan potensi lokal dapat diterjemahkan menjadi proyek yang menarik secara bisnis, memiliki kepastian operasional, dan mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Merangin tumbuh 4,58 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Nilai produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga konstan mencapai Rp3,177 triliun. Sementara itu, laporan Pemkab Merangin yang disampaikan pada Maret 2026 menyebut pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5,13 persen.

Data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi Merangin tetap tumbuh, tetapi pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berbanding lurus dengan besarnya investasi baru. Investor juga mempertimbangkan akses jalan, biaya angkut, kepastian lahan, perizinan, pasokan bahan baku, serta kedekatan dengan pasar.

Bupati Merangin M. Syukur sebelumnya menegaskan pembangunan infrastruktur jalan menjadi prioritas karena berpengaruh langsung terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Dalam kunjungan ke Jangkat Timur pada November 2025, ia juga menyatakan akan membawa investor untuk mengoptimalkan potensi kopi, kulit manis, nilam, dan komoditas lokal lainnya.

Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah rendahnya realisasi investasi. Potensi komoditas perlu disertai informasi produksi, kontinuitas pasokan, biaya distribusi, serta kepastian usaha agar investor dapat menghitung kelayakan proyek.

Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Provinsi Jambi Agustus 2026 mencatat ekonomi provinsi tumbuh 4,15 persen pada triwulan II 2026. BI juga mencatat kredit korporasi tumbuh 14,55 persen secara tahunan, tetapi kredit sektor pertanian hanya tumbuh 0,75 persen. Angka ini berlaku untuk tingkat provinsi, bukan khusus Merangin.

Karena itu, evaluasi investasi Merangin perlu berfokus pada proyek yang benar-benar berjalan, hambatan yang dihadapi pelaku usaha, dan pekerjaan yang tercipta. Ukuran keberhasilan bukan hanya nilai modal masuk, tetapi juga seberapa jauh investasi memperluas pasar bagi petani, UMKM, dan pemasok lokal.

Penulis: Afifa Maharani