JURNALJAMBI.CO – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menewaskan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam struktur militer Iran, memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang semakin luas.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa Mayor Jenderal Majid Khademi kepala organisasi intelijen mereka tewas dalam serangan yang terjadi pada Senin (6/4/2026) dini hari. Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut serangan tersebut sebagai “aksi teroris kriminal” yang dilakukan oleh pihak Amerika dan Israel.
Tak hanya menargetkan elite militer, serangan tersebut juga menelan korban sipil. Laporan dari otoritas medis Iran menyebut puluhan warga tewas, termasuk enam anak-anak yang menjadi korban dalam serangan udara di berbagai wilayah.
Kematian Khademi menjadi pukulan besar bagi struktur intelijen Iran. Ia dikenal sebagai sosok kunci dalam sistem keamanan negara dan telah lama berperan dalam operasi intelijen strategis. Sejumlah laporan internasional menyebut serangan ini sebagai bagian dari operasi militer yang lebih luas untuk melemahkan jaringan komando Iran di tengah perang yang masih berlangsung.
Konflik antara Iran di satu sisi, dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain, memang terus memanas sejak awal 2026. Serangkaian serangan udara, pembunuhan tokoh penting, hingga aksi balasan rudal telah memperparah situasi dan memperluas risiko perang regional.
Pihak Israel sendiri dikabarkan tidak akan menghentikan operasi militernya. Bahkan, pejabat pertahanan Israel menyatakan serangan terhadap infrastruktur dan target strategis Iran akan terus berlanjut jika ancaman terhadap warga mereka tidak mereda.
Situasi ini membuat dunia internasional semakin waspada. Kekhawatiran akan konflik terbuka skala besar di Timur Tengah kini bukan lagi sekadar ancaman melainkan potensi nyata yang bisa terjadi kapan saja.













