Cek Endra: Jangan Bakar Hutan dan Lahan, Perusahaan Perkebunan Harus Siagakan Mobil Tangki

Drs. H. Cek Endra, Anggota DPR RI Komisi XII dari Fraksi Golkar

JURNALJAMBI.CO – Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar Cek Endra mengingatkan seluruh masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peringatan tersebut disampaikan menyusul terjadinya karhutla di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, termasuk Jambi, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

“Karhutla merupakan persoalan nasional yang harus dicegah bersama. Masyarakat, pemilik kebun, perusahaan perkebunan, dan pemerintah daerah harus mengambil tanggung jawab sesuai perannya. Jangan membuka atau membersihkan hutan dan lahan dengan cara membakar karena dampaknya sangat besar terhadap lingkungan, kesehatan, transportasi, dan perekonomian,” kata Cek Endra, di Jakarta, 17 September 2026

Ia mencontohkan kondisi di Jambi, tempat luas karhutla sejak 1 Januari hingga 13 September 2026 telah mencapai sekitar 2.975 hektare, dengan 134 titik panas dan empat titik api yang menjadi perhatian. Menurut Cek Endra, kondisi di Jambi menggambarkan ancaman serupa yang dihadapi berbagai daerah sehingga pencegahan dan penanganan tidak boleh hanya dilakukan setelah kebakaran meluas.

Cek Endra mengajak masyarakat di seluruh Indonesia mengelola kebun dan lingkungan secara bertanggung jawab, membersihkan material kering yang mudah terbakar tanpa menggunakan api, serta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan titik api. Kecepatan pelaporan dan penanganan awal sangat menentukan agar kebakaran tidak menjalar ke kawasan yang lebih luas.

Ia juga meminta perusahaan perkebunan maupun perseorangan yang memiliki kebun relatif luas di berbagai daerah menyiagakan mobil tangki air di sekitar kawasan usahanya. Kesiapan tersebut perlu dilengkapi dengan sumber air, pompa, selang pemadam, alat pelindung diri, patroli rutin, serta petugas yang terlatih menghadapi keadaan darurat.

“Mobil tangki jangan baru dicari ketika api sudah membesar. Perusahaan dan pemilik kebun luas harus memiliki sarana pemadaman awal yang siap digunakan setiap saat. Respons pada menit-menit pertama sangat penting untuk mencegah api menyebar dan menimbulkan kerugian yang lebih besar,” tegas legislator asal Jambi tersebut.

Cek Endra juga berharap dampak El Niño dan kemarau panjang yang terjadi di berbagai wilayah dapat segera berakhir. Menurutnya, dampak kemarau saat ini tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga mulai memengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat. Di sejumlah wilayah, debit sungai dan sumber air mulai berkurang bahkan sebagian mengering sehingga masyarakat semakin kesulitan memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kita berharap kondisi kemarau panjang ini segera berakhir. Pemerintah daerah juga harus mengantisipasi persoalan air bersih, terutama di wilayah yang sumber airnya mulai mengering. Jangan sampai masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Jika diperlukan, distribusi air bersih harus segera dilakukan ke daerah-daerah yang terdampak,” ujar Cek Endra.

Cek Endra mendorong pemerintah pusat dan daerah, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, masyarakat peduli api, serta pelaku usaha memperkuat koordinasi, patroli terpadu, dan pemetaan wilayah rawan di seluruh Indonesia. “Pencegahan harus menjadi prioritas nasional. Dengan disiplin tidak membakar hutan dan lahan, kesiapan sarana pemadaman, serta antisipasi dampak kemarau terhadap kebutuhan air bersih, kita dapat melindungi masyarakat sekaligus menjaga lingkungan Indonesia,” pungkasnya.