JURNALJAMBI.CO – Pernyataan Gubernur Jambi Al Haris mengenai kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi sorotan. Saat melaporkan kondisi karhutla kepada Presiden Prabowo Subianto, Al Haris menyebut tidak ada lagi titik api aktif di Jambi dalam beberapa hari terakhir.
Namun, pernyataan tersebut berbanding dengan data pemantauan hotspot dan kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Jambi.
Dalam laporan kepada Presiden, Al Haris menyampaikan luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi mencapai sekitar 658 hektare. Ia juga menyebut terdapat 120 hotspot yang terdeteksi.
Meski demikian, Al Haris mengatakan kondisi karhutla telah memasuki tahap pendinginan dan tidak terdapat lagi titik api aktif di Jambi.
“Jambi sudah beberapa hari ini tidak kebakaran,” kata Al Haris dalam laporan tersebut.
Di sisi lain, data Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi menunjukkan sebanyak 199 titik panas atau hotspot masih terdeteksi di Provinsi Jambi pada Minggu (23/8/2026) hingga pukul 16.00 WIB. Jumlah itu memang menurun dari sehari sebelumnya yang mencapai 273 titik, tetapi masih menunjukkan adanya anomali panas yang perlu diwaspadai.
Hotspot memang tidak otomatis berarti kebakaran. Namun, sejumlah titik yang terdeteksi satelit juga ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan.
Polsek Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, misalnya, melakukan ground check terhadap 10 hotspot yang terpantau BMKG. Petugas kemudian menemukan adanya karhutla di Desa Suban.
Kondisi udara juga memperlihatkan persoalan karhutla belum sepenuhnya berakhir. Nilai ISPU di kawasan Paal Lima, Kota Jambi, dilaporkan mencapai 204 atau masuk kategori sangat tidak sehat. Sementara di Kabupaten Batang Hari, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 265,3 µg/m³, yang masuk kategori berbahaya.
Kabut asap bahkan berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Pemerintah Provinsi Jambi mengambil keputusan meliburkan kegiatan sekolah akibat kondisi udara dan kabut asap yang semakin pekat.
Rangkaian data tersebut membuat klaim bahwa Jambi sudah tidak mengalami kebakaran perlu dipertanyakan. Meski belum dapat disimpulkan bahwa Al Haris sengaja memberikan informasi yang tidak benar kepada Presiden, terdapat perbedaan antara laporan mengenai tidak adanya api aktif dengan masih ditemukannya hotspot, karhutla hasil pengecekan lapangan, serta buruknya kualitas udara.
Pemerintah daerah perlu menjelaskan secara terbuka perbedaan antara hotspot, titik api aktif, dan kebakaran yang telah terverifikasi agar masyarakat memperoleh gambaran yang akurat mengenai kondisi karhutla Jambi.












