JURNALJAMBI.CO – Kekeliruan yang menimpa kisah Susanah bukan sekadar salah ucap sesaat dari mimbar kenegaraan. Ia menyingkap masalah lebih dalam: lemahnya verifikasi data sebelum disampaikan pimpinan, yang diduga didorong budaya laporan “asal bapak senang” yang kerap terjadi di lingkaran terdekat kekuasaan.
Dalam pidato Sidang Tahunan MPR, Presiden Prabowo Subianto menyebut Susanah sebagai pengupas bawang berupah Rp700 ribu per kilogram angka yang mustahil secara logika ekonomi. Padahal naskah tertulis mencantumkan Rp700 per kilogram, dan fakta di lapangan jauh berbeda: Susanah bukan pengupas bawang, melainkan ibu rumah tangga asal Cileungsi yang bekerja ganda: pagi menjahit kain majun dengan hitungan Rp700 per kilogram, siang harinya bekerja sebagai pencuci ompreng di dapur Program Makan Bergizi Gratis. Penghasilannya harian berkisar Rp14 ribu hingga Rp35 ribu, jauh dari narasi yang sempat terbangun.
Kesalahan ini diduga bermula dari laporan yang disusun terburu-buru tanpa pemeriksaan silang yang ketat, hanya demi menyajikan kisah yang dianggap menyentuh hati atasan. Sumber di lingkungan birokrasi menyebut budaya “asal bapak senang” membuat banyak staf lebih memilih menyajikan narasi yang diharapkan disukai pimpinan, ketimbang menyampaikan fakta apa adanya meski berisiko menimbulkan kegemparan publik.
Tidak hanya data pekerjaan dan angka yang keliru, lingkaran terdekat presiden juga dinilai gagal memastikan kebenaran kisah sebelum disampaikan secara langsung di hadapan wakil rakyat dan seluruh bangsa. Akibatnya, bukan kesalahan yang bertanggung jawab, melainkan Susanah sendiri yang harus menanggung malu, cemoohan, dan gangguan dari netizen, padahal ia hanya rakyat kecil yang diundang sebagai contoh penerima manfaat negara.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengakui adanya perbedaan antara naskah dan ucapan lisan, serta berjanji melakukan verifikasi ulang. Namun peristiwa ini menjadi peringatan keras: kesalahan kecil dalam penyampaian fakta, yang lahir dari budaya laporan yang tidak jujur dan teliti, bisa berubah menjadi luka besar bagi rakyat biasa dan merusak kepercayaan publik terhadap negara.












