Viral! Lagu AI “Ibu Bapak Iki Anakmu Seng Nakal” Bikin Merinding

Ilustrasi

JURNALJAMBI.CO – Tidak semua lagu yang viral lahir dari musisi besar atau studio rekaman ternama. Belakangan ini, jagat media sosial justru dibuat hanyut oleh sebuah lagu berbahasa Jawa berjudul “Ibuk Lan Bapak”. Potongan liriknya yang sederhana, “Ibuk, bapak, niki anakmu sing nakal,” sukses membuat ribuan orang berhenti menggulir layar ponsel mereka.

Banyak yang mengaku tiba-tiba teringat rumah, kampung halaman, bahkan ada yang langsung menghubungi ibu dan ayahnya setelah mendengar lagu tersebut.

Yang membuat lagu ini semakin menarik, “Ibuk Lan Bapak” ternyata bukan dibawakan penyanyi terkenal. Lagu ini lahir dari GinS, grup musik virtual yang memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). Namun siapa sangka, karya yang sepenuhnya dibantu kecerdasan buatan justru mampu menyampaikan emosi yang terasa begitu manusiawi.

Sejak detik pertama lagu diputar, pendengar langsung disambut teriakan lirih, “Bu… Bapak…” Suara itu bukan sekadar pembuka lagu, tetapi seperti panggilan seorang anak yang sudah lama memendam rindu.

Lirik demi lirik kemudian mengalir pelan, menceritakan seorang anak yang mulai menyadari bahwa kedua orang tuanya tidak lagi muda. Kulit sang ibu mulai keriput, rambut ayah mulai memutih. Waktu ternyata berjalan begitu cepat, sementara sang anak merasa belum mampu membalas semua pengorbanan yang telah diberikan.

Banyak anak yang merantau demi mengejar cita-cita. Mereka bekerja dari pagi hingga malam, mengejar karier, menabung untuk masa depan, tetapi sering kali lupa bahwa di rumah ada dua orang yang diam-diam terus menunggu kabar.

Mereka tidak meminta kiriman uang setiap hari. Tidak juga berharap hadiah mahal. Sering kali yang mereka tunggu hanyalah telepon singkat yang berkata, “Bu, Pak, aku sehat.”

Lagu ini seolah mengingatkan bahwa orang tua tidak pernah berhenti mencintai anaknya, meski sang anak merasa dirinya belum menjadi kebanggaan keluarga.

Ketika bagian lirik berbunyi, “Nyuwun dongo pangestu sing dadi modal,” banyak pendengar mengaku tak kuasa menahan air mata. Sebab, sebesar apa pun usaha seseorang mengejar mimpi, doa orang tua tetap menjadi bekal yang paling berharga.

Suasana lagu semakin emosional ketika hujan sore dijadikan simbol kerinduan.

Ada potongan cerita tentang seorang anak yang hanya bisa memandangi foto lama kedua orang tuanya. Hujan turun di luar jendela, sementara ingatan tentang rumah, aroma masakan ibu, dan obrolan sederhana bersama keluarga terus berputar di kepala.

Banyak perantau pernah mengalaminya. Saat pekerjaan terasa berat, saat hidup sedang tidak baik-baik saja, rumah selalu menjadi tempat pertama yang ingin kembali didatangi.

Lagu ini juga menyelipkan pesan sederhana yang sering diucapkan hampir semua ibu di Indonesia.

“Jangan lupa pulang, sesukses apa pun nanti.”

Kalimat itu mungkin terdengar biasa ketika masih tinggal serumah. Namun setelah dewasa dan hidup berjauhan, pesan tersebut justru menjadi sesuatu yang paling dirindukan.

Menariknya, “Ibuk Lan Bapak” tidak berhenti pada kisah tentang keluarga.

Di pertengahan lagu, cerita berubah menjadi kisah patah hati.

Ada dua orang yang pernah saling berjanji akan menggapai mimpi bersama hingga duduk di pelaminan. Namun kehidupan berkata lain. Sang kekasih memilih pergi dan membangun kebahagiaan dengan orang lain.

Impian yang dulu terasa begitu dekat berubah menjadi kenangan.

Meski tema bergeser, rasa kehilangan yang dihadirkan tetap terasa utuh. Baik kehilangan orang yang dicintai maupun kerinduan kepada keluarga, keduanya sama-sama meninggalkan ruang kosong di dalam hati.

Barangkali di situlah letak kekuatan lagu ini.

Ia tidak berbicara tentang kemewahan, popularitas, ataupun kesuksesan. Lagu ini justru mengangkat hal-hal sederhana yang sering luput disyukuri dalam kehidupan sehari-hari.

Tentang orang tua yang diam-diam menua.

Tentang rumah yang selalu menunggu untuk disinggahi.

Tentang seseorang yang pernah datang lalu pergi.

Dan tentang kenyataan bahwa waktu tidak pernah mau menunggu siapa pun.

Terlepas dari fakta bahwa lagu ini diciptakan dengan bantuan teknologi AI, “Ibuk Lan Bapak” berhasil membuktikan satu hal. Sebagus apa pun kecerdasan buatan berkembang, emosi yang lahir dari cerita tentang keluarga, kerinduan, dan penyesalan akan selalu menemukan jalannya menuju hati manusia.

Mungkin itulah alasan mengapa lagu ini begitu mudah viral.

Karena hampir setiap orang pernah menjadi anak yang merindukan rumah, pernah merasa gagal membahagiakan orang tua, atau pernah kehilangan seseorang yang begitu dicintai.

Dan setelah lagu ini selesai diputar, barangkali masih ada satu hal yang layak dilakukan sebelum melanjutkan aktivitas.

Menghubungi ibu atau ayah, lalu mengatakan, “Apa kabar?”