JURNALJAMBI.CO – Ketegangan perang di Timur Tengah semakin meningkat setelah Iran untuk pertama kalinya menggunakan rudal balistik jarak jauh Sejjil dalam serangan terhadap Israel dan target terkait Amerika Serikat.
Serangan tersebut dilancarkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dalam operasi militer yang disebut True Promise 4 pada Minggu (15/3).
IRGC menyatakan rudal Sejjil ditembakkan ke pusat-pusat komando dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan operasi udara Israel.
Menurut laporan kantor berita Tasnim, serangan Iran tidak hanya menggunakan Sejjil. IRGC juga meluncurkan sejumlah rudal lain seperti Khorramshahr, Khaybar-shekan, Qadr, dan Emad.
Rudal Khorramshahr disebut memiliki hulu ledak superberat hingga dua ton, menjadikannya salah satu senjata paling mematikan dalam arsenal Iran.
Militer Iran mengklaim gelombang serangan tersebut berhasil menghantam sejumlah infrastruktur militer utama Israel serta lokasi berkumpulnya pasukan.
Rudal Sejjil dikenal sebagai salah satu sistem persenjataan strategis paling canggih yang dimiliki Iran. Berbeda dengan generasi sebelumnya seperti Shahab, Sejjil menggunakan bahan bakar padat sehingga waktu persiapan peluncuran jauh lebih cepat.
Keunggulan lainnya adalah mobilitas tinggi, sehingga rudal ini lebih sulit dideteksi dan dihancurkan sebelum diluncurkan.
Sejjil diperkirakan memiliki jangkauan antara 2.000 hingga 2.500 kilometer, cukup untuk menjangkau wilayah Israel, sebagian kawasan Eropa Tenggara, serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Rudal ini juga mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir dengan berat sekitar 700 kilogram.
Dalam fase masuk atmosfer, rudal Sejjil disebut dapat melaju hingga Mach 12 hingga Mach 14, sementara saat menghantam target kecepatannya sekitar Mach 5.
Kecepatan dan jarak jangkau tersebut membuat Sejjil dipandang sebagai ancaman strategis bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Ini merupakan kali kedua Iran menggunakan Sejjil dalam konflik bersenjata. Sebelumnya rudal tersebut pertama kali dipakai dalam perang antara Iran dan Israel pada Juni 2025.
Penggunaan kembali rudal ini menandai eskalasi serius dalam konflik yang kini melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.













