Arab Saudi Pangkas Produksi Minyak, Gangguan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Energi Global

Situasi konflik terus berlangsung, konsumen dan pelaku industri di berbagai negara berpotensi menghadapi harga energi yang tinggi dalam beberapa bulan ke depan, bahkan setelah konflik mereda. Hal ini disebabkan oleh potensi kerusakan infrastruktur energi serta pemulihan logistik yang membutuhkan waktu cukup lama.

JURNALJAMBI.CO – Perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan mulai memangkas produksi di dua ladang minyaknya di tengah gangguan jalur pelayaran energi di kawasan Teluk.

Langkah tersebut diambil setelah jalur strategis Selat Hormuz terganggu akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dua sumber yang dikutip Reuters menyebutkan pemangkasan produksi dilakukan sebagai respons terhadap gangguan logistik energi yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah. Namun hingga kini, Saudi Aramco belum mengungkapkan ladang minyak mana yang terdampak maupun berapa besar volume produksi yang dikurangi.

Ketegangan meningkat sejak serangan militer dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone, termasuk ke wilayah negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Situasi tersebut menyebabkan jalur distribusi energi di kawasan Teluk terganggu dan memicu reaksi berantai dari negara-negara produsen energi lainnya.

Beberapa perusahaan energi di kawasan bahkan mulai mengurangi produksi. Perusahaan energi nasional Kuwait dilaporkan memangkas produksi dan menetapkan kondisi force majeure untuk pengiriman minyak.

Sementara itu, fasilitas ekspor gas alam cair di Ras Laffan Industrial City di Qatar menghentikan operasional sementara setelah terkena serangan drone.

Produksi minyak di wilayah selatan Irak juga dilaporkan turun hingga sekitar 70 persen akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan. Selain itu, perusahaan energi Abu Dhabi National Oil Company atau ADNOC di Uni Emirat Arab turut mengurangi produksi lepas pantai.

Kondisi serupa juga terjadi di Bahrain, di mana perusahaan energi nasionalnya menetapkan status force majeure akibat gangguan distribusi.

Gangguan besar pada rantai pasok energi tersebut mengguncang pasar global. Harga minyak mentah Brent bahkan melonjak hingga mendekati US$120 per barel, tertinggi sejak pertengahan 2022.

Untuk mengurangi dampak gangguan di Selat Hormuz, Arab Saudi diketahui mempercepat pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah dengan memanfaatkan pipa East-West.