Ancaman Jika APBN Tak Kuat Tahan Harga BBM: Inflasi Tinggi hingga Risiko Resesi Ekonomi

Kenaikan harga BBM dapat memicu dampak berantai terhadap perekonomian nasional.

JURNALJAMBI.CO – Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Jika kemampuan APBN untuk menahan subsidi energi melemah, pemerintah berpotensi menghadapi pilihan sulit, yakni menaikkan harga BBM atau menambah beban fiskal negara.

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan kenaikan harga BBM dapat memicu dampak berantai terhadap perekonomian nasional.

Menurut dia, kenaikan harga energi hampir pasti akan mendorong inflasi, terutama pada harga kebutuhan pokok.

“Kalau harga energi subsidi dinaikkan, dampaknya akan mendorong inflasi yang cukup tinggi. Pada akhirnya daya beli masyarakat akan menurun dan beban ekonomi rakyat kecil semakin berat,” ujar Fahmy, Senin (9/3/2026).

Fahmy menilai kenaikan harga BBM saat ini juga sangat berisiko karena berdekatan dengan momentum Ramadan dan Lebaran.

Pada periode tersebut, inflasi biasanya meningkat akibat naiknya permintaan masyarakat. Jika kenaikan harga BBM terjadi pada waktu yang sama, maka inflasi berpotensi meningkat secara ganda.

“Kalau terjadi bersamaan dengan hari raya, maka inflasinya bisa menjadi double counting inflation,” kata dia.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai kenaikan harga BBM juga berpotensi mendorong ekonomi Indonesia menuju perlambatan yang lebih dalam.

Ia memperkirakan inflasi bisa melonjak hingga kisaran 6 hingga 8 persen secara tahunan jika harga BBM benar-benar dinaikkan.

Kondisi tersebut dapat melemahkan daya beli masyarakat dan menekan permintaan industri. Jika tekanan itu berlanjut, perusahaan berpotensi melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Ujungnya PHK bisa meningkat tajam di berbagai sektor, termasuk industri manufaktur dan perdagangan,” kata Bhima.

Bhima juga memperingatkan dampak sosial ekonomi yang lebih luas.

Menurut dia, kenaikan harga BBM dapat membuat kelompok kelas menengah rentan turun menjadi kelompok miskin akibat menurunnya kemampuan konsumsi.

Jika daya beli masyarakat terus melemah, aktivitas ekonomi juga akan ikut menurun dan meningkatkan risiko resesi.

“Jumlah kelas menengah yang turun menjadi kelompok rentan dan miskin bisa meningkat signifikan. Dalam kondisi ekstrem, Indonesia berpotensi masuk ke fase resesi ekonomi,” ujarnya.