Kegiatan yang dikenal dengan sebutan rukyatul hilal tersebut menjadi bagian penting untuk menentukan 1 Ramadan 1447 H secara ilmiah dan syar’i. Hasil dari pemantauan ini akan menjadi bahan utama pembahasan dalam Sidang Isbat yang digelar pada malam harinya di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa sidang isbat menyatukan data hisab (perhitungan astronomis) dan hasil rukyat (pengamatan langsung hilal) untuk memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan dengan akurat, transparan, dan melibatkan berbagai unsur terkait, mulai dari pemerintah hingga ormas Islam.
Menurut perhitungan hisab, ijtima’ atau konjungsi bulan menjelang Ramadan dijadwalkan terjadi pada Selasa sore, namun posisi hilal saat matahari terbenam menurut data falakiyah masih berada di bawah ufuk, yang berarti secara teori belum memenuhi kriteria visibilitas. Untuk itulah pengamatan langsung di berbagai titik tetap digalakkan.
Selain Jambi, sejumlah kota besar seperti Aceh, Palembang, Bandung, Semarang, dan Makassar termasuk dalam daftar titik pengamatan yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Semua data yang terkumpul nantinya akan dibahas dalam sidang isbat nasional sebelum keputusan resmi tentang awal Ramadan diumumkan kepada publik.
Dengan ribuan relawan, petugas, dan pemerhati falak yang terlibat, momentum rukyatul hilal ini bukan hanya menjadi ritual ilmiah, tetapi juga simbol kebersamaan umat Islam Indonesia dalam menyambut bulan suci Ramadan 2026.













