JURNALJAMBI.CO – Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali meningkat. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan tengah melakukan operasi intelijen untuk melacak keberadaan sekitar 11 ribu tentara Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Media Iran yang mengutip laporan Al Jazeera menyebut badan intelijen IRGC menyerukan kepada warga di berbagai negara Timur Tengah agar melaporkan lokasi tentara Amerika yang diduga bersembunyi di hotel maupun tempat tinggal pribadi.
Dalam pesan yang beredar, IRGC meminta masyarakat menyampaikan informasi mengenai keberadaan pasukan Amerika melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk aplikasi pesan Telegram.
“Organisasi intelijen IRGC menyerukan informasi mengenai pasukan AS di seluruh wilayah,” demikian pernyataan yang dikutip media Iran.
IRGC juga menuduh pasukan Amerika berupaya memanfaatkan warga sipil di kawasan tersebut sebagai “perisai manusia” di tengah konflik yang terus meningkat.
Karena itu, otoritas militer Iran meminta masyarakat tidak memberikan perlindungan kepada tentara Amerika yang berada di sekitar mereka.
Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Konflik semakin memanas setelah serangan pada akhir Februari lalu yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Posisi tersebut kemudian diisi oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang menyatakan Iran akan membalas serangan tersebut.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga melontarkan pernyataan keras terhadap kepemimpinan baru Iran. Netanyahu bahkan menyebut Israel akan menargetkan pemimpin tertinggi Iran jika konflik terus berlanjut.













