Daerah  

Kelapa Tanjab Timur Dibidik Investor Asing, Peluang Cuan dari Sabut hingga Tempurung

Kelapa berpotensi dikembangkan menjadi minyak kelapa, santan, serta produk turunan tempurung. Namun, peluang tersebut belum otomatis menjadi investasi nyata. Kepastian pasokan bahan baku, kelayakan usaha, dan kontrak pembelian perlu dipastikan.

JURNALJAMBI.CO – Potensi ekonomi kelapa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, tak lagi sebatas menjual buah mentah. Dengan puluhan ribu hektare perkebunan, daerah ini membidik investasi industri pengolahan untuk membuka sumber pendapatan baru bagi petani sekaligus memperluas peluang usaha berbasis komoditas perkebunan.

Data Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada April 2026 menyebutkan, luas perkebunan kelapa mencapai sekitar 58.000 hektare dengan produksi 51.000 ton pada 2024. Sementara itu, dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026 mencatat produksi kelapa dalam pada tahun yang sama mencapai 57.295 ton. Perbedaan angka tersebut perlu dicermati berdasarkan cakupan dan sumber pendataannya.

Peluang pengembangan industri mulai dijajaki melalui kunjungan calon investor asal Jerman bersama tim ahli Roemah Kelapa Indonesia dan perwakilan Kementerian PPN/Bappenas pada 10 April 2026. Investor tersebut tertarik mengkaji potensi pengolahan sabut dan tempurung kelapa, termasuk peluang menghasilkan produk berorientasi ekspor.

Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur Muslimin Tanja sebelumnya menyampaikan bahwa penjajakan kerja sama dengan investor luar negeri, termasuk delegasi Jerman dan Belgia, diharapkan membantu mengatasi fluktuasi harga kelapa. Kehadiran industri di daerah juga berpotensi memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan nilai jual di tingkat petani.

Peluang ini kembali menguat setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi pada 5 Oktober 2026 mendorong pemetaan potensi sabut kelapa di Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat. Sabut dapat diolah menjadi cocopeat, media tanam yang memiliki nilai tambah. Pengembangannya membutuhkan dukungan pembiayaan perbankan, teknologi pengolahan, pelaku usaha, serta kepastian pasar.

Selain cocopeat, kelapa berpotensi dikembangkan menjadi minyak kelapa, santan, serta produk turunan tempurung. Namun, peluang tersebut belum otomatis menjadi investasi nyata. Kepastian pasokan bahan baku, kelayakan usaha, dan kontrak pembelian perlu dipastikan.

Bagi Tanjung Jabung Timur, keberhasilan hilirisasi bukan sekadar berdirinya pabrik. Ukurannya adalah peningkatan harga di tingkat kebun, terbukanya lapangan kerja, dan bertambahnya pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis: Lisa