Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi dan LPG Tidak Naik, Stok Energi Nasional Aman

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia

JURNALJAMBI.CO – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi maupun liquefied petroleum gas (LPG) subsidi di tengah gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kepastian tersebut disampaikan Bahlil usai melaporkan kondisi sektor energi kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Menurut Bahlil, pemerintah telah mengevaluasi perkembangan konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dan dampaknya terhadap pasokan energi global. Meski situasi internasional masih bergejolak, stok energi nasional dipastikan berada dalam kondisi aman.

“Kami melaporkan perkembangan geopolitik, termasuk peperangan di Timur Tengah yang belum selesai. Namun, stok BBM dan minyak mentah (crude) kita berada di atas standar minimum nasional, begitu juga dengan kondisi LPG,” ujar Bahlil.

Pemerintah Jamin Harga BBM Subsidi Tetap Stabil

Bahlil menegaskan fluktuasi harga minyak dunia tidak akan memengaruhi harga BBM bersubsidi maupun LPG subsidi yang dinikmati masyarakat.

Pemerintah, kata dia, tetap mempertahankan kebijakan harga energi bersubsidi sesuai keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Kami memastikan harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan. Begitu juga dengan LPG subsidi, tetap tidak ada perubahan harga,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus memberikan kepastian bagi masyarakat di tengah kekhawatiran melonjaknya harga minyak dunia yang sempat menembus level psikologis US$100 per barel.

Selain membahas pasokan energi, Bahlil juga mengungkapkan pemerintah masih mempersiapkan implementasi kebijakan campuran bioetanol E20, yaitu bensin dengan kandungan 20 persen etanol.

Menurutnya, penerapan mandatori E20 baru akan dilakukan setelah kapasitas produksi etanol dalam negeri dinilai mampu memenuhi kebutuhan nasional.

“Sampai kita melihat kapasitas industri etanol kita. Kalau seluruh kapasitas sudah siap, baru mandatory E20 dijalankan sesuai arahan Bapak Presiden,” katanya.

Sebelumnya, harga minyak mentah global sempat melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz.

Namun pada perdagangan Selasa (28/7/2026), harga minyak mulai mengalami koreksi setelah muncul optimisme terhadap upaya diplomasi untuk meredakan konflik.

Minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 5 persen menjadi US$91,89 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah ke US$84,64 per barel.

Pemerintah berharap penurunan harga minyak tersebut dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mengurangi tekanan terhadap subsidi energi.