JURNALJAMBI.CO — Gelombang aksi besar-besaran dipastikan akan terjadi pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026. Sekitar 500 ribu buruh dari berbagai daerah dikabarkan siap turun ke jalan dan mengepung Gedung DPR RI, membawa satu pesan utama: menagih janji Presiden Prabowo Subianto terkait penghapusan sistem outsourcing.
Aksi ini bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum konsolidasi besar kaum pekerja yang merasa tuntutan mereka belum sepenuhnya terealisasi. Isu outsourcing kembali menjadi sorotan utama, karena dinilai masih menimbulkan ketidakpastian kerja dan menekan kesejahteraan buruh.
Sejumlah serikat pekerja menegaskan bahwa May Day tahun ini akan berlangsung lebih masif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mereka berkomitmen mengerahkan kekuatan penuh untuk menyuarakan aspirasi, mulai dari penghapusan outsourcing, penolakan upah murah, hingga perlindungan tenaga kerja secara menyeluruh.
Janji penghapusan outsourcing sendiri sebelumnya pernah disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo saat peringatan May Day 2025. Saat itu, ia bahkan mengumumkan rencana pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional sebagai langkah awal menuju perbaikan sistem ketenagakerjaan.
Namun, hingga kini implementasi konkret dari janji tersebut masih terus dinantikan. Buruh menilai pemerintah perlu bergerak lebih cepat dan tegas agar tidak sekadar berhenti pada wacana.
“May Day bukan seremoni, tapi momentum perjuangan,” menjadi semangat yang digaungkan para buruh menjelang aksi besar tersebut. Mereka menegaskan tidak akan mundur hingga tuntutan dipenuhi dan keadilan sosial benar-benar dirasakan oleh seluruh pekerja.
Dengan potensi mobilisasi hingga ratusan ribu massa, May Day 2026 diprediksi menjadi salah satu aksi buruh terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan terhadap pemerintah pun dipastikan semakin kuat, terutama dalam hal pembuktian komitmen terhadap kesejahteraan pekerja di Indonesia.













