JURNALJAMBI.CO – Di tengah memanasnya konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, peran dua kekuatan besar dunia, China dan Rusia, mulai menjadi sorotan. Keduanya disebut-sebut memberikan dukungan kepada Iran, baik secara langsung maupun tidak langsung, saat tekanan militer dari Barat terus meningkat.
Laporan terbaru menyebut adanya kerja sama militer antara Iran dengan Rusia dan China, termasuk dalam bentuk berbagi informasi strategis dan koordinasi keamanan.
Selain itu, China juga diduga memberi dukungan finansial hingga komponen teknologi yang berkaitan dengan sistem persenjataan Iran di tengah konflik. Secara geopolitik, hubungan Iran dengan Rusia memang telah diperkuat melalui perjanjian kemitraan strategis sejak 2025 yang mencakup kerja sama ekonomi hingga militer.
Pengamat menilai, dukungan tersebut tidak selalu dilakukan secara terbuka. China dan Rusia cenderung bermain di balik layar untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.
“China dan Rusia kemungkinan membantu, tetapi tidak secara terbuka,” ujar pengamat keamanan internasional Muradi.
Di saat Iran mendapat sinyal dukungan dari kekuatan besar non-Muslim, pertanyaan muncul: ke mana negara-negara Islam? Faktanya, banyak negara Muslim justru memilih berhati-hati.
Negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga negara Teluk lainnya cenderung menjaga jarak. Sebagian bahkan terdampak langsung konflik dan lebih fokus pada stabilitas kawasan.
Sementara itu, Indonesia mengambil posisi diplomatik, mendorong deeskalasi dan penyelesaian melalui jalur internasional, bukan keterlibatan militer langsung.
Di forum global seperti Dewan Keamanan PBB, China dan Rusia bahkan memilih abstain dalam resolusi terkait konflik Iran menunjukkan sikap hati-hati, bukan konfrontatif.
Kondisi ini memperlihatkan realitas politik global: dukungan tidak selalu ditentukan oleh kesamaan agama, melainkan kepentingan strategis.
China membutuhkan stabilitas energi dari Iran. Rusia memiliki kepentingan geopolitik melawan dominasi Barat. Sementara negara-negara Islam di kawasan justru berada dalam posisi rentan jika konflik meluas.












