Daerah  

Uji Coba Turbin PLTA Diduga Picu Surutnya Air Danau Kerinci

FOTO: Air Danau Kerinci terlihat menyusut drastis, diduga akibat uji coba pengaliran turbin PLTA pada Januari 2026 yang memicu kekhawatiran dampak ekologis dan gangguan terhadap aktivitas masyarakat sekitar.

JURNALJAMBI.CO – Penyusutan permukaan air Danau Kerinci yang terjadi sepanjang awal Januari 2026 memunculkan kekhawatiran sejumlah pihak. Uji coba pengaliran turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang berlangsung pada 1–16 Januari 2026, diduga menjadi salah satu faktor yang memicu penurunan volume air danau, yang selama ini menjadi penopang utama ekosistem dan penghidupan masyarakat sekitar.

Pemerhati lingkungan Kerinci–Sungai Penuh, Yose Chua, menyatakan bahwa uji coba teknis tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh. Menurutnya, klaim bahwa hanya satu dari tiga pintu air dibuka setinggi 20 sentimeter tidak serta-merta meniadakan potensi dampak ekologis.

“Danau Kerinci bukan hanya sumber air bagi kepentingan pembangkit listrik, tetapi juga ekosistem hidup yang menopang biodiversitas, perikanan rakyat, dan keseimbangan lingkungan,” kata Yose, Selasa (27/1/2026).

Ia menjelaskan, penurunan muka air danau dalam waktu relatif singkat berisiko mengganggu habitat ikan, siklus biologis perairan, serta kualitas air. Dampak tersebut, kata dia, tidak mudah dipulihkan dalam waktu singkat.

“Merusak ekosistem air sangat mudah, tetapi memulihkannya membutuhkan waktu yang panjang dan komitmen yang serius,” ujarnya.

Selain dampak lingkungan, Yose juga menyoroti isu kompensasi bagi warga yang terdampak penyusutan air. Ia mempertanyakan kejelasan mekanisme, dasar perhitungan, serta keberlanjutan kompensasi tersebut apabila PLTA beroperasi secara penuh.

“Jika kompensasi diberikan kepada warga, bagaimana dengan ekosistem yang rusak? Alam tidak bisa digantikan dengan uang. Harus ada rencana pemulihan yang konkret,” kata Yose.

Ia menilai hingga kini belum terlihat adanya rencana terbuka terkait rehabilitasi lingkungan atau mitigasi kerusakan akibat uji coba tersebut. Proses uji coba yang disebut minim sosialisasi kepada masyarakat juga menjadi sorotan.

Menurut Yose, keputusan teknis yang berdampak langsung terhadap ruang hidup publik seharusnya melibatkan masyarakat secara transparan dan partisipatif.

“Danau ini bukan milik proyek semata. Ia memiliki nilai ekologis, sosial, dan kultural. Ketika kebijakan dijalankan tanpa melibatkan warga, maka masyarakat hanya menjadi penonton,” ujarnya.

Yose juga mengingatkan perlunya keterbukaan data, termasuk informasi debit air, kajian dampak lingkungan, serta pengawasan independen sebelum PLTA beroperasi secara penuh.

“Jika pada tahap uji coba saja air danau sudah menyusut, maka dampak saat operasional penuh perlu dikaji dengan sangat hati-hati,” kata dia.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola PLTA maupun instansi terkait belum memberikan penjelasan resmi terkait dugaan penyusutan air Danau Kerinci tersebut.