Berita  

AS Tarik Pasukan dari Pangkalan Timur Tengah, Tanda Siaga Serangan Militer ke Iran?

Amerika Serikat (AS) menarik sebagian pasukan militernya dari sejumlah pangkalan di Timur Tengah, siap hadapi perang lawan Iran

JURNALJAMBI.CO – Amerika Serikat (AS) menarik sebagian pasukan militernya dari sejumlah pangkalan di Timur Tengah di tengah memanasnya situasi politik dan keamanan di Iran. Langkah ini memicu spekulasi luas terkait kemungkinan serangan militer AS ke Teheran dalam waktu dekat.

Seorang pejabat AS yang dikutip Reuters, Rabu (14/1), menyebut penarikan personel dilakukan dari pangkalan-pangkalan strategis di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, langkah tersebut merupakan sinyal bahwa opsi serangan militer terhadap Iran sedang dipersiapkan.

“Semua sinyal menunjukkan serangan AS bisa terjadi sebentar lagi. Ketidakpastian adalah bagian dari strategi,” ujar pejabat tersebut dengan syarat anonim.

Namun, pernyataan berbeda disampaikan Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump mengatakan situasi di Iran dinilai mulai membaik seiring meredanya kekerasan terhadap para demonstran. Meski begitu, Trump belum sepenuhnya menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

“Kita akan mengamati bagaimana prosesnya,” kata Trump.

Sementara itu, dua pejabat Eropa menyebut intervensi militer AS berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan. Seorang pejabat Israel juga menilai Trump tampaknya telah memutuskan untuk ikut campur dalam krisis Iran, meski belum jelas bentuk dan waktu langkah tersebut.

Ketegangan regional turut berdampak pada negara sekutu AS. Militer Qatar dilaporkan menarik pasukannya dari Pangkalan Udara Al Udeid—pangkalan terbesar AS di Timur Tengah—sebagai respons atas eskalasi situasi. Inggris juga disebut telah menarik sebagian personel militernya dari pangkalan udara di Qatar.

Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda evakuasi besar-besaran personel militer seperti menjelang serangan rudal Iran pada tahun lalu.

Krisis Iran sendiri dipicu oleh gelombang demonstrasi besar sejak akhir Desember akibat memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial. Kelompok HAM berbasis di AS, HRANA, mengklaim lebih dari 2.000 orang tewas dalam aksi protes tersebut, meski angka itu belum dapat diverifikasi secara independen karena pembatasan internet di Iran.

Pemerintah Iran menuduh demonstrasi tersebut ditunggangi oleh AS dan Israel. Teheran juga telah memperingatkan akan melancarkan serangan balasan apabila ada intervensi asing dalam urusan domestik mereka.

Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah berada dalam status siaga tinggi, sementara dunia internasional menunggu langkah selanjutnya dari Washington.