JURNALJAMBI.CO – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Provinsi Jambi kian mengkhawatirkan.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi mengungkapkan bahwa praktik tambang ilegal tersebut telah merusak 44.387 hektare kawasan hutan, meninggalkan jejak kehancuran ekologis yang luas dan berdampak sistemik.
Kerusakan tidak berhenti pada bentang alam. Aktivitas tambang emas ilegal juga mencemari aliran Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatra yang menjadi sumber kehidupan jutaan warga.
Limbah merkuri, logam berat berbahaya yang digunakan dalam proses pemurnian emas, terdeteksi mencemari perairan dan mengancam kesehatan manusia serta ekosistem.
Oscar menjelaskan, data tersebut merupakan hasil pemantauan hingga tahun 2025. Selama bertahun-tahun, praktik gali cepat telah mengubah kawasan hutan menjadi hamparan lahan rusak, sekaligus mengalirkan lumpur dan merkuri ke badan sungai.
Limbah berbahaya ini mengalir hingga ke Sungai Batanghari dan menjadi ancaman nyata bagi jutaan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sungai, baik untuk air bersih, pertanian, maupun perikanan,” tegas Oscar.
Menurutnya, maraknya PETI mencerminkan lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Meski dampaknya kian nyata dan meluas, aktivitas ilegal tersebut terus berlangsung tanpa penanganan yang tegas dan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan di wilayah hulu sungai akan berimplikasi langsung terhadap kehidupan masyarakat di wilayah hilir.
Pencemaran merkuri tidak hanya merusak ekosistem perairan, tetapi juga berpotensi menimbulkan krisis kesehatan dalam jangka panjang.
“Kita berbicara tentang kerusakan yang tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Ini bukan sekadar soal lingkungan, tetapi soal keselamatan generasi yang akan datang,” ujarnya.
WALHI Jambi mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk menghentikan praktik PETI secara serius melalui penguatan pengawasan, penindakan hukum yang tegas, serta pemulihan kawasan terdampak.
Sudah terlalu lama aktivitas ini dibiarkan. Selama tidak ada langkah tegas, kerusakan akan terus meluas dan Sungai Batanghari akan menanggung dampak terbesarnya,” pungkas Oscar.












