Berita  

Ketegangan Memuncak, Iran Hentikan Kontak Diplomatik dengan AS

Iran-AS Putus Komunikasi Diplomatik, Ancaman Perang Kian Nyata

JURNALJAMBI.CO – Saluran diplomatik antara Iran, dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan terputus di tengah meningkatnya ketegangan politik, dan keamanan di Teheran. Penghentian komunikasi ini terjadi menyusul ancaman serangan militer dari Washington terhadap Iran.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, Rabu (14/1), bahwa komunikasi antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dan utusan khusus AS Steve Witkoff telah dihentikan. Langkah tersebut menandai memburuknya hubungan kedua negara di tengah krisis domestik Iran.

Ketegangan meningkat setelah pemerintah Iran melakukan penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah yang meluas di berbagai wilayah. Aksi protes tersebut dilaporkan menelan ribuan korban jiwa, meski angka pastinya belum dapat diverifikasi secara independen.

Situasi ini diperparah oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Teheran. Ancaman tersebut muncul beberapa bulan setelah AS melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.

Pemerintah Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dibalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Sebagai respons atas eskalasi tersebut, sejumlah personel militer AS dilaporkan meninggalkan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.

Di dalam negeri, otoritas Iran juga mengisyaratkan langkah keras terhadap para demonstran yang ditahan. Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, menyatakan proses hukum terhadap para tersangka akan dipercepat.

“Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya sekarang. Penundaan akan mengurangi efek pencegahan,” ujar Mohseni-Ejei, seperti dikutip media internasional.

Pernyataan tersebut, memicu kekhawatiran kelompok aktivis hak asasi manusia yang menilai percepatan proses hukum bisa berujung pada eksekusi mati terhadap demonstran.

Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh, turut mengeluarkan peringatan keras kepada pihak-pihak yang mendukung intervensi militer terhadap Iran. Ia menegaskan Teheran siap membela diri dengan kekuatan penuh.

“Jika ancaman ini diwujudkan, kami akan mempertahankan negara hingga tetes darah terakhir,” kata Nasirzadeh.

Penghentian saluran diplomatik ini juga berdampak pada upaya perundingan nuklir antara Iran dan AS. Seorang pejabat Iran menyebut ketegangan terbaru telah meniadakan peluang kemajuan dalam pembicaraan nuklir yang selama ini berlangsung di tengah hubungan yang rapuh.

Media pemerintah Iran mengakui tingginya jumlah korban tewas akibat protes nasional, namun menyalahkan kelompok bersenjata dan teroris. Sementara itu, kelompok oposisi dan aktivis HAM menyebut jumlah korban jauh lebih besar dan mencakup ribuan demonstran.

Dengan terputusnya komunikasi diplomatik dan meningkatnya ancaman militer, situasi di Iran dinilai berada pada titik paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.