Daerah  

Jambi Alami Deflasi 0,47 Persen, Inflasi Tahunan Tembus 3,35 Persen

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jambi, susiawati kristiarini.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat Provinsi Jambi mengalami deflasi sebesar 0,47 persen secara bulanan (month to month/MtM) dan year to date (YtD) pada Januari 2026. Sementara itu, inflasi tahunan (year on year/YoY) tercatat sebesar 3,35 persen.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jambi, Susiawati Kristiarini, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi Januari 2026 secara MtM dengan andil deflasi sebesar 0,66 persen.

“Komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi pada kelompok ini adalah cabai merah,” ujar Susiawati di BPS Provinsi Jambi pada Senin (2/2/2026).

Sebagai perbandingan, pada Januari 2025 Provinsi Jambi juga mengalami deflasi, masing-masing sebesar 0,13 persen secara MtM dan YtD, dengan tingkat inflasi tahunan tercatat 0,46 persen.

BPS mencatat, inflasi tahunan Provinsi Jambi Januari 2026 sebesar 3,35 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 109,98. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Muaro Bungo sebesar 5,04 persen dengan IHK 111,30. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kota Jambi sebesar 3,09 persen dengan IHK 109,30.

Menurut Susiawati, inflasi tahunan di Provinsi Jambi dipicu oleh kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tertinggi dengan andil sebesar 1,40 persen.

“Selain itu, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi sebesar 0,59 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 11,33 persen,” kata Susiawati.

BPS menilai pergerakan harga tersebut mencerminkan dinamika pasokan dan permintaan, terutama pada komoditas pangan dan kebutuhan rumah tangga, yang masih menjadi faktor utama pembentuk inflasi di Provinsi Jambi.