Bisnis  

Emiten Emas Dinilai Tetap Defensif pada Semester I 2026 di Tengah Harga Emas Tinggi

Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia.

JURNALJAMBI.CO – Kinerja saham emiten terkait emas diproyeksikan tetap defensif dan relatif stabil pada semester I 2026. Proyeksi ini ditopang oleh harga emas global yang bertahan di level tinggi di tengah ketidakpastian global serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menilai emas masih menjalankan perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven). Kondisi tersebut membuat kinerja emiten emas cenderung lebih resilien dibandingkan sektor-sektor yang bersifat siklikal.

“Pada semester I 2026, emiten emas diperkirakan tetap relatif defensif dan stabil, ditopang harga emas global yang bertahan tinggi di tengah ketidakpastian global dan ekspektasi pelonggaran moneter. Emas masih berfungsi sebagai safe haven,” ujar Reydi kepada Liputan6.com, Sabtu (24/1/2026).

Meski demikian, Reydi menilai pergerakan saham emiten emas ke depan tidak lagi seragam. Pasar mulai bersikap lebih selektif dengan membedakan kualitas fundamental masing-masing emiten, seperti besaran cadangan, struktur biaya produksi, hingga kekuatan arus kas.

“Ke depan, pergerakan saham emiten emas akan semakin selektif. Emiten dengan cadangan besar, biaya produksi kompetitif, dan arus kas kuat cenderung lebih diminati dibandingkan emiten yang masih berada pada tahap pengembangan,” jelasnya.

Selain itu, investor disarankan mencermati emiten emas yang memiliki produksi stabil, neraca keuangan sehat, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang jelas. Emiten dengan integrasi bisnis juga dinilai memiliki profil risiko lebih rendah di tengah volatilitas pasar global.

Sebelumnya, harga emas dunia kembali mencetak rekor dengan menembus level USD 4.900 per ons, didorong oleh ketegangan geopolitik, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta ekspektasi penurunan suku bunga The Federal Reserve. Kenaikan harga emas turut memperkuat sentimen positif terhadap saham-saham emiten emas.

Analis menilai selama ketidakpastian global masih berlanjut dan kebijakan moneter cenderung akomodatif, sektor emas berpotensi tetap menjadi salah satu pilihan defensif bagi investor di pasar saham Indonesia.