JURNALJAMBI.CO – Wacana kemarau ekstrem yang populer disebut “El Nino Godzilla” memicu kewaspadaan di berbagai sektor, termasuk industri perkebunan kelapa sawit. Meski istilah tersebut tidak dikenal dalam kajian ilmiah, potensi kekeringan tetap menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada produktivitas dan risiko kebakaran lahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa klasifikasi El Nino secara resmi hanya terbagi menjadi lemah, moderat, dan kuat. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut peluang terjadinya El Nino lemah hingga moderat mencapai 50–60 persen pada paruh kedua 2026.
Mengantisipasi kondisi tersebut, PTPN IV PalmCo menetapkan status siaga menghadapi musim kemarau tahun ini. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan perusahaan memilih pendekatan konservatif dengan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.
“Kami menjalankan kesiapsiagaan seolah menghadapi skenario terburuk untuk meminimalkan risiko,” ujar Jatmiko di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang kerap meningkat saat musim kemarau panjang, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Untuk memperkuat sistem pengawasan, perusahaan memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama ARFINA (Artificial Intelligence Fire Monitoring Integrated Ground Checking Nusantara). Teknologi ini memungkinkan pemantauan titik panas secara real time guna mempercepat respons di lapangan.
“Sistem ini membantu mendeteksi potensi kebakaran lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum meluas,” kata Jatmiko.
Meski demikian, ia menekankan bahwa teknologi tersebut tetap harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia. Setiap peringatan yang dihasilkan sistem akan langsung ditindaklanjuti oleh tim di lapangan.
Selain pemanfaatan teknologi, perusahaan juga memperkuat infrastruktur pendukung, seperti pembangunan embung dan sekat kanal di wilayah rawan kekeringan. Langkah ini diperkuat dengan kolaborasi bersama TNI dan Polri melalui patroli rutin dan kesiapsiagaan tanggap darurat.
Di sisi lain, dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan risiko kebakaran, tetapi juga berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Kekeringan berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan, menurunkan hasil produksi, hingga memicu serangan hama.
“Kemarau panjang berpotensi menimbulkan efek domino, mulai dari kekeringan tanah hingga peningkatan populasi hama,” ujar Jatmiko.
Perhatian khusus diberikan pada tanaman belum menghasilkan (TBM) yang lebih rentan terhadap stres air. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi keberlanjutan investasi jangka panjang jika tidak ditangani dengan baik.
Untuk itu, perusahaan menerapkan strategi agronomi adaptif, termasuk pengelolaan kelembapan tanah dan tata kelola air secara efisien. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kondisi tanaman tetap optimal di tengah tekanan perubahan iklim.
Melalui berbagai langkah tersebut, PTPN IV PalmCo menargetkan stabilitas operasional tetap terjaga, sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dan sosial yang kerap menyertai musim kemarau panjang.













