JURNALJAMBI.CO – Konflik di Timur Tengah kian meluas. Di tengah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, langit Arab Saudi diserbu puluhan drone dalam satu malam.
Kementerian Pertahanan Saudi melaporkan sedikitnya 61 pesawat nirawak berhasil dicegat sistem pertahanan udara sejak Senin (16/3) dini hari. Drone-drone tersebut terdeteksi bergerak menuju wilayah timur Saudi dan sebagian mengarah ke ibu kota Riyadh.
Serangan ini menjadi salah satu gelombang drone terbesar sejak konflik terbuka antara blok AS–Israel dan Iran pecah pada 28 Februari 2026.
Melalui pernyataan resmi di media sosial X, otoritas pertahanan Saudi menyatakan seluruh drone berhasil dicegat sebelum mencapai target vital.
Militer Saudi langsung menaikkan status siaga di sejumlah fasilitas strategis, terutama instalasi energi dan lokasi yang terkait dengan kepentingan militer Barat di kawasan.
Sejak konflik regional memanas, negara-negara Teluk memang menjadi wilayah yang paling rentan terkena imbas perang.
Selain drone yang melintas di udara Riyadh, sejumlah serangan juga dilaporkan menyasar fasilitas energi Saudi.
Beberapa target yang disebut terdampak antara lain kilang minyak Ras Tanura serta ladang minyak Shaybah yang dikelola raksasa energi nasional, Saudi Aramco.
Fasilitas-fasilitas tersebut merupakan infrastruktur vital bagi produksi minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung memicu kekhawatiran di pasar energi global.
Sejumlah pihak menuding serangan terhadap fasilitas energi Saudi berkaitan dengan operasi militer Iran. Namun tuduhan tersebut langsung dibantah oleh Teheran.
Duta Besar Iran untuk Arab Saudi, Alireza Enayati, menegaskan negaranya tidak terlibat dalam serangan drone tersebut.
“Iran bukan pihak yang bertanggung jawab atas serangan-serangan ini. Jika Iran melakukannya, kami tidak akan menyembunyikannya,” ujarnya kepada Reuters.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menuding Washington dan Tel Aviv menjalankan operasi false flag dengan menggunakan drone yang dibuat menyerupai model Iran untuk menyerang negara-negara Arab.
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini menyeret semakin banyak negara di Timur Tengah. Selain Arab Saudi, beberapa negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain juga dilaporkan mengalami ancaman serangan drone dan rudal.
Situasi ini memicu kekhawatiran konflik regional bisa berubah menjadi perang besar yang melibatkan banyak negara sekaligus mengguncang stabilitas energi dunia.













