Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengungkapkan kemarahan terhadap sabotase jembatan Bailey, yang dibangun untuk penanganan bencana Sumatera. Baut-baut jembatan dilaporkan sengaja dibongkar di tengah kondisi masyarakat yang masih dalam kondisi darurat.
Maruli menegaskan tindakan tersebut sangat membahayakan keselamatan warga dan berpotensi menimbulkan korban jiwa baru.
“Dalam kondisi masyarakat sedang bencana, ini baut-bautnya dibongkar. Kok ada orang sebiadap ini, masyarakat terkena bencana pun mau dikorbankan,” tegas Maruli
Ia mengaku sangat terpukul dengan peristiwa tersebut hingga membuatnya tidak bisa tidur memikirkan dampak yang dapat ditimbulkan. Menurutnya, sabotase itu menunjukkan masih adanya pihak yang mengorbankan masyarakat demi kepentingan tertentu.
“Saya terus terang tidak bisa tidur semalam. Saya pikir, orang seperti ini luar biasa. Masyarakat yang sedang bencana pun mau dikorbankan,” ujarnya.
Di tengah kemarahan tersebut, Maruli memastikan TNI Angkatan Darat tetap bekerja maksimal dalam penanganan bencana. Seluruh personel Satgas Jembatan dikerahkan bekerja tiga shift, pagi, siang, dan malam, demi mengejar target pembangunan infrastruktur darurat.
“Kami bekerja pagi, siang, malam. Kalau tidak seperti ini, saya kira tidak akan mencapai target seperti yang kita dapatkan hari ini,” ujarnya.
Ia turut meminta dukungan media untuk membantu menjelaskan kepada masyarakat terkait proses pemulihan, termasuk pembangunan hunian tetap yang membutuhkan waktu dan tahapan.
“Kami perlu dibantu media untuk meyakinkan masyarakat. Semua langkah ini hasil evaluasi BNPB dan rapat pemerintah,” ujarnya.
Maruli berharap, di balik bencana ini, masyarakat justru dapat merasakan peningkatan infrastruktur ke depan, mulai dari jembatan yang lebih kuat hingga akses air bersih yang lebih baik.
“Mudah-mudahan setelah bencana ini, ada peningkatan yang bisa didapatkan oleh masyarakat seperti daerah yang sulit air akan dibuatkan sumur,” pungkasnya.












